- Kok gitu? bukannya kamu mau jadi seniman?
+ Iya kata ibuku nanti kalo kawin sama seniman bakal sengsara seperti Adi
- Adi siapa?
+ Itu lo bu cerita yang ada di TV!...
- Waduh...
+ Dimas! kamu lama2 mirip Adi deh
- Adi siapa nini?
+ Itu lo Adi yang ada di cerita TV! berantakan suka tidur sama males2an. Jangan kayak gitu ya nanti malu2in masa minta uang istrinya terus
*************************************
Siapa sih Adi itu sebenernya? Ternyata ada sitkom lagi lumayan ngetop di sebuah TV swasta yang menceritakan tentang kehidupan perkawinan seorang seniman dengan seorang pengacara. Kebetulan di cerita tersebut sang seniman, bernama Adi digambarkan selayaknya citra seorang seniman yang umum di masyarakat: berantakan, jorok, engga masuk akal, kere dan malas. Namun punya istri yang luar biasa cantik dan berpenghasilan dengan profesi yang terlihat mapan :D
Nah percakapan2 diatas rupanya bikin pusing temen2 (read: murid2)di ESoA nih karena dampaknya lumayan menganggu usaha yang dilakukan mereka dan sekolah mereka untuk menepis citra seniman yang amburadul hehehe....bisa dimengerti karena usaha mereka untuk bisa meyakinkan orang tua dan keluarga besar supaya bisa menikmati belajar seni di usianya yang masih SMA cukup bikin kepala pusing 1000 keliling hehehe...
Untuk itu temen2 di ESoA bikin surat yang ditujukan ke TV swasta tersebut agar bisa membantu memperbaiki citra seorang seniman. Semoga surat tersebut bisa diterima dengan baik oleh produser acara tersebut tanpa salah paham karena anak2 ini hanya ingin di bantu untuk mengangkat citra dari profesi yang jadi cita2 mereka yaitu seniman / pekerja seni :D
Ini suratnya:
Jakarta, 23 February 2015
Halo!
Kami adalah sekelompok anak-anak Sekolah Seni Visual
dan Desain setara SMA, Erudio School of
Art.
Kebetulan,beberapa dari kami adalah penikmat dari
sitkom Tetangga Masa Gitu. Walau bukan penonton yang secara rutin mengikuti
acara tersebut,namun menurut kami
Tetangga Masa Gitu adalah salah satu sitkom yang menghibur.
Namun,sejujurnya terlepas dari unsur menghibur sitkom
tersebut kami sedikit terganggu dengan stereotip seniman yang digambarkan oleh
tokoh Adi.
Di sitkom ini, Adi digambarkan sebagai guru seni yang,
katakanlah secara garis besar,kerjanya hanya bermalas-malasan saja,walau
katanya jebolan ISI Yogyakarta. Pola hidupnya tidak sehat karena hobi makan mie
instan. Bahkan, hidupnya bersama isterinya rata-rata secara keuangan bergantung
kepada istrinya. Hal itu terus terang
mempengaruhi persepsi sebagian orangtua kami, juga sebagian orang yang bekerja
ataupun tidak menekuni dunia seni rupa dan desain.
Kami tidak setuju dengan hal itu.
Memang,ada seniman yang seperti itu di dunia
nyata,namun pada kenyataannya,tidak semuanya.
Kami sudah bertemu banyak seniman,yang,percayalah,berbeda
sekali dengan karakter Adi di sitkom itu. Mereka punya pola hidup yang sehat,
produktif menghasilkan karya - karya dan bisa memenuhi kebutuhan diri mereka
secara finansial dari hasil karyanya.
Di masa seperti ini, lagi pula menjadi seniman seperti
Adi tidak ada untungnya buat kami. Mencari inspirasi memang sulit, namun bukan
berarti itu menjadi alasan untuk bermalas-malasan. Justru,disaat mencari
inspirasi itu,kami,di sekolah diajarkan untuk membuat konsep dan
bereksperimen,baik dalam mengatur komposisi,pemilihan material dan medium,
teknik juga objek yang dipakai. Dalam membuat konsep,kami juga diajarkan untuk
tidak asal.
Bahkan kami belajar tentang pola hidup, kami juga
diajarkan untuk punya pola hidup yang sehat dan teratur. Sebagai contoh,
sebagai seniman, kami banyak berhubungan dengan cat maupun material lain yang
cukup berbahaya bagi kesehatan jadi kami harus memperhatikan penggunaan semua material dengan seksama.
Kesehatan penting dalam berkarya, jika kami sakit,maka kami tidak akan bisa
berkarya dengan maksimal.
Kami percaya ***TV sebagai salah satu TV lokal yang
masih kami tonton, karena menurut kami keren, bisa membantu kami untuk menepis
persepsi buruk “stereotip” mengenai profesi yang ada di
bawah payung seni. Kami bersedia membantu ***TV untuk melakukan edukasi
mengenai hal tersebut dengan suka cita karena kami percaya setiap profesi, apapun
itu, akan membawa dampak yang baik kepada sesama apabila dilakukan dengan gembira,
sungguh-sungguh dan sepenuh hati, tidak terkecuali seniman, pekerja seni atau
apapun profesi dibawah payung seni.
Sebelumnya kami ucapakan terima kasih untuk
perhatiannya.
Atas nama siswa siswi Erudio School of Art
Hormat kami,

Anaya Anjar
Ketua Titik Koma
Organisasi Siswa Erudio School of Art