Bingung start ceritanya dari mana haha...
Authar #myXS saat ini usianya 3.5 tahun dan sekolah di sebuah sekolah, yang memegang prinsip2 pengajaran Montessori, sejak usianya 2 tahun sehingga total 1.5 tahun dia di sekolah itu.
Alasan utama kenapa aku masukkan Authar di sekolah tersebut karena kecintaan aku dengan filosofi Montessori.
Perkenalan Montessori pertama oleh mas Oni di tahun 2006. Saat itu sambil lalu mas Oni bercerita tentang sebuah sekolah yang menghormati (respect) hak anak untuk bisa membuat keputusan untuk dirinya sendiri. Setelah research dan mendengar cerita mengenai adanya pola pendidikan seperti itu banyak pemikiran dan filosofinya yang diterapkan di Picture Me yaitu memberikan setiap anak:
1. Waktu yang dibutuhkan karena kami menghargai perbedaan dan keunikan setiap anak
2. Kebebasan untuk eksplorasi potensi dan keunikannya
3. Pengalaman melalui simulasi kehidupan yang mendekati kenyataan (chaotic dan tidak sempurna)
Menjelang Authar 2 tahun aku menemukan sekolah idaman tersebut. Saat itu pengetahuanku mengenai Montessori sangatlah minim dan tidak mendasar. Namun saat Authar trial di sekolah tersebut yang aku rasakan adalah "LOVE at FIRST SIGHT". Di otakku mengatakan: PERFECT! this is my DREAM SCHOOL!...
Setelah berjalannya waktu ternyata perkembangan Authar tidak seperti yang diharapkan khususnya di kemampuan berkomunikasi. Hambatan komunikasi Authar adalah mengekspresikan apa yang ada di pemikirannya tapi Authar tidak punya masalah dalam menerima dan mengerti instruksi bahkan percakapan. Selayaknya emak2 panik Authar aku bawa ke sebuah lembaga psikologi di Jakarta Selatan. Tidak ada diagnosa yang dikeluarkan oleh dokter maupun psikolog yang memberikan assessment kepada Authar kecuali diharuskan untuk terapi Wicara dan Okupasi. 6 bulan Authar terapi disana namun tidak ada perkembangan yang signifikan terjadi sehingga Authar aku pindahkan ke tempat terapi lebih dekat di rumah wilayah Cipete dan disarankan untuk SI (Sensory Integration) dan hasil assessmentnya mengatakan Authar ada masalah di Sensory Processing: Propioceptif. Penjelasan awamnya adalah Authar memiliki problem dalam memproses rasa cape sehingga Authar terus mencari sensasi tersebut dengan selalu bergerak2. Hal tersebut yang menyebabkan Authar tidak bisa fokus dan bicaranya pun terhambat *kira2 seperti itu*.
Selama mengikuti terapi2 diatas Authar tetap sekolah seperti biasa. Aku share dan update ke guru2 disana mengenai terapi yang dilakukan Authar tapi tanggapan guru2nya mengatakan bahwa Authar engga apa2 dan tidak bermasalah. *amannnnnn*
Tibalah saatnya Authar mencapai usia 3 tahun dimana di umur tersebut Authar seharusnya pindah ke kelas yang range umurnya 3 - 6 tahun. Dari literatur dan buku yang aku baca mengenai Montessori bahwa usia 3-6 tahun merupakan start program "early childhood education"Montessori.
“By the age of three, the child has already laid down the foundations of his personality as a human being . . .” ~ Dr. Maria Montessori
Background Informasi: bahwa Montessori mencampur 3 tahun usia di 1 kelas dengan tujuan agar anak2 itu belajar hidup berkomunitas. Yang besar memberi contoh dan yang kecil role modelling yang besar, dsb dsb.
Perasaan excited Authar akan masuk ke lingkungan early childhood Montessori terpaksa tertunda karena saat report day, Principal dari sekolah tersebut khusus ingin bicara dengan orang tua Authar untuk membicarakan perkembangan Authar. Intinya: Authar tidak bisa di pindahkan karena belum siap. Saat itu aku menerima saja keputusan tersebut dengan pemikiran 6 bulan lagi Authar bisa menikmati kelas Pre-school Montessori untuk usia 3-6 tahun.
6 bulan kemudian......ternyata Authar masih tidak bisa dinaikkan kelasnya :(( sehingga harus tetep stay di kelas Toddlers. Kecewa? BANGET!...
Kecewa disini bercampur aduk antara melihat Authar sebagai anakku dan Kecewa dengan policy Montessori di sekolah tersebut. Pengetahuanku tentang Montessori mungkin masih minim tapi sepengetahuan aku tidak seharusnya anak dengan kondisi seperti Authar di tahan dan tidak boleh naik ke kelas berikutnya karena tidak memenuhi standard dan kriteria yang ditentukan oleh kelas Pre-school yaitu: harus bisa fokus, harus bisa pake baju sendiri, toilet trained, harus bisa makan sendiri, dan list2 lainnya dimana Authar tidak punya masalah major kecuali urusan harus bisa fokus. Aku berusaha melihat kondisi ini secara neutral dan tidak bias.
“And so we discovered that education is not something which the teacher does, but that it is a natural process which develops spontaneously in the human being.” (Montessori)
Diskusiku dengan pihak sekolah membuat aku tambah frustrasi melihat hal ini.
Pihak Sekolah:
Mereka melihat Authar sebagai anak yang membutuhkan atensi lebih karena dianggap perkembangannya tidak sesuai umurnya, sehingga akan lebih baik Authar berada di kelas Toddler dimana guru2nya masih bisa lebih memperhatikan Authar sampai dirasa siap untuk masuk kelas pre school
Respon Aku:
I am not denying any of that dan aku kembali membawa Authar untuk dilakukan assessment menyeluruh mengenai progress dan kondisinya.
Saat assessment berlangsung setengah memaksa aku minta therapistnya untuk memberikan informasi/ tanggapan mengenai nama medis dari problem yang ada di Authar. Jawaban therapistnya: "Authar engga ada apa2 Ibu, saya bukan bermaksud membesar2kan hati Ibu tapi seriously tidak ada masalah apa2 dengan Authar kecuali "delay" akibat dari sensory processingnya yang bermasalah dan progress dari 6 bulan yang lalu sangat pesat perkembangannya. Authar sudah mulai bicara, Authar sudah bergerak dengan tujuan, Authar sudah bisa diam dan fokus bermain "pretend play". Saya yakin masalah ini tidak akan berbekas nantinya, hanya saja Authar masih harus dilatih untuk lebih fokus dan bisa menyelesaikan kegiatan dari awal sampai selesai". *Alhamdulillah*. Tentu saja informasi ini saya sampaikan ke pihak sekolah bahwa Authar sebenarnya aman aman dan bisa dikatakan normal.
Pihak Sekolah:
Acknowledge issue Authar mengenai kekurangan "follow through" akhirnya pihak kepala sekolah memberikan solusi bahwa selama 1 - 3 bulan Authar stay di kelas Toddler dan akan di latih agar bisa fokus dan "follow through" setelah Authar siap tidak harus menunggu sampai Juli nanti Authar akan dipindahkan.
Untuk memperkuat dan bisa membuat program khusus Authar selama 1 - 3 bulan kedepan ini pihak sekolah minta semua data dan record hasil assessment Authar.
Respon Aku :
(dalam hati) Terjemahannya apabila ini terjadi di sekolah conventional atau umum adalah: anak ibu dibawah KKM (passing grade) jadi selama 3 bulan akan di drill supaya nilainya cukup dan bisa naik kelas (???) Dalam kondisi spt ini kondisi normalnya orang tua akan memutar otak untuk menyiapkan anaknya...LES INI LES ITU (duh engga guna). Dalam kasus Authar terbersit di pikiranku "aduh therapy apa lagi ya" OH MY GOD *nampar2 pipi sendiri supaya sadar*
(yang aku jawab) Arrange saja pertemuan pihak sekolah dan therapistnya Authar supaya bisa lebih mendapatkan gambaran yang fair mengenai perkembangan Authar.
*DISEPAKATI bahwa pada tanggal 3 December ini pihak sekolah akan bertemu dengan therapistnya Authar*
Pemikiran aku mengenai hal ini:
1. Tidak seharusnya Montessori mereject anak seperti Authar untuk masuk ke komunitas yang sesuai umurnya karena balik lagi ke filosofi dasarnya bahwa Montessori percaya setiap anak akan berkembang secara natural sesuai potensi dan kemampuannya. Khusus sekolah yang berpegang pada prinsip2 Montessori akan menyiapkan lingkungan sekolahnya dengan material yang mendukung anak untuk bisa belajar dengan kemauannya sendiri.
2. Memberikan kesempatan Authar atau anak-anak lain seperti Authar masuk ke dalam lingkungan yang seharusnya dia berada sesuai usianya akan membantu menstimulus perkembangannya. Ibaratnya di kehidupan nyata tidak akan ada kata siap, siapapun dia, untuk bisa masuk ke sebuah komunitas baru. Aku yakini berjalannya waktu justru kesalahan dan konsekuensi yang harus dihadapi Authar akibat dari kekurangannya akan lebih banyak mengajarkan Authar untuk bisa siap hidup nantinya.
3. Mungkin dari pihak sekolah lebih khawatir dari kesiapan gurunya bukan anaknya.
4. Kasus ini merupakan pelajaran berharga untuk diriku dan sekolahku nantinya. Karena sering kali dari pengalaman 7 tahun running sebuah sekolah bahwa orang tua dan sekolah sering kali tidak memakai kaca mata yang sama...sekolah lebih sering menganggap orang tua selfish karena meletakkan kepentingannya diatas anaknya sendiri ( i admit it happened).
5. Semoga pressure dari sekolah tidak menghalangi aku "sebagai orang tua" untuk bisa menerima dan menghargai potensi dan keunikan Authar *aminnnnn*
Note:
I have my fullest respect toward Authar's school despite of the above issue *seriously* no other school (in Indonesia, based on my research) applying totally the principles of Montessori makanya ekspektasiku besar sekali thd sekolah ini *hikhik*...dan observasi dan opiniku mengenai Montessori diatas berdasarkan intepretasi dari pengetahuan yang aku dapat melalui buku, literature, journal, majalah dsb dsb...









